Site Loader
Mengalir Air Mata, Terduga Penganiaya Ibu Kandung Minta Buku Tuntunan Doa

Liputan6. com, Kebumen berantakan Hartoyo (37), awak Desa Karanggedang Kecamatan Sruweng Kabupaten Kebumen yang menjadi tersangka pemerasan ibu kandung hingga meninggal tidak kuasa membendung air matanya.


Ia menangis terisak masa diterapi hipnosis oleh Kapolres Kebumen, AKBP Rudy Cahya Kurniawan.

Toyo, sapaan akrab tersangka, semula tak cakap untuk apa dihadirkan ke bagian kerja Kapolres.


Tetapi setelah dijelaskan,   tersangka penganiaya ibu kandung itu  tahu Kapolres mengundangnya secara khusus untuk menunjukkan hipnoterapi investigasi for trauma healing.


Terapi ini bermanfaat untuk menyembuhkan luka batin simpulan penganiaya ibu kandungnya itu supaya bisa berubah menjadi orang yang lebih baik dan lebih kaya di masa depan.


“Kita lakukan pendekatan dari hati-ke hati, komunikasi lewat pikiran lembah sadarnya, ” kata Rudy.


2 dari 4 halaman

Proses Hipnoterapi

Proses hipnosis diawali obrolan kecil di ruang kerja Kapolres. Toyo dipersilakan duduk rileks.   Pada posisi nyaman tersangka, Kapolres mengacu hipnoterapi.


“Dari hipnoterapi ini kita ajak tersangka menggambarkan kondisinya tanpa paksaan. Selanjutnya simpulan disisipi pesan Kamtibmas, ” perkataan Rudy.


Ada kurang efek dari pesan Kamtibmas yang diberikan Kapolres dari terapi itu, yang pertama tersangka akan menyesali perbuatannya.


Tersangka dalam kemudian hari diharapkan berubah menjelma lebih baik. Terapi ini pula menutup hati tersangka dari seruan perbuatan jahat.


“Ini terbukti setelah diberikan hipnoterapi, setelah terbangun, tersangka menangis menyesali perbuatannya selanjutnya minta buku tuntunan salat dan buku mengaji. Dia mengaku tobat, ” ucap Rudy.


3 sejak 4 halaman

Kronologi Tersangka Aniaya Ibu Kandungnya

Diberitakan sebelumnya, Toyo melemparkan botol minuman mudah ke ibunya, Sandiyah (83), Selasa (23/6).   Botol mengenai pelipis Sandiyah.


Saat ibunya kesakitan, tersangka memukul wajah, menjadikan tubuh korban dan mendorongnya hingga terpental.


Toyo tega menganiaya ibunya karena keinginannya tak dituruti. Ia mendesak Sandiyah mengubah surat perjanjian keluarga terkait harta warisan keluarga.


Toyo berharap dengan mengubah surat tersebut, ia bisa mendapat jatah warisan lagi. Sebelumnya, Toyo sempat menjajakan tanah orangtuanya.

4 dari 4 halaman

Pernah Aniaya Kakak Kandungnya

Sebelum ini, Toyo pernah ditahan setelah melukai kakak kandungnya, Agus Widodo, secara senjata tajam pada 2018.


Toyo dihukum tiga tahun penjara. Ia bebas lebih mula berkat kebijakan asimilasi pada asal 2020, dari yang semestinya khali pada 2021.


Kepada polisi, Toyo mengaku  tega  menganiaya  karena ibu kandungnya, Sandiyah menolak memenuhi keinginannya mengubah surat perjanjian keluarga. Surat yang dibuat 2015 silam itu mengatur tentang kekayaan warisan keluarga.


Tulisan itu menyebut Toyo pernah menjual tanah seluas 30 ubin seharga Rp45 juta. Dengan demikian, Toyo tak berhak lagi atas harta warisan keluarga.


“Dengan diubahnya surat perjanjian itu, simpulan berharap mendapatkan warisan lagi di kemudian hari. Namun saat diminta untuk diubah, korban menolak yang membuat tersangka marah, ” logat Kapolres Kebumen, AKBP Rudy Cahya Kurniawan, dalam keterangan tertulisnya.

Daniel Powell