Site Loader
Memperlawankan Rapid Test Antigen dan Rapid Test Antibodi, Berikut Penjelasannya

Liputan6. com, Jakarta Perbedaan rapid test antigen dan rapid test antibodi perlu dikenali. Sebagai cara menentukan apakah seseorang terinfeksi virus Corona atau tidak, kamu bisa menggunakan rapid test antigen atau rapid test antibodi ini, di samping melakukan ulangan PCR.  

Jika kamu memiliki petunjuk COVID-19, seperti demam, batuk, & sesak napas, sebaiknya kamu memeriksakan diri ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan COVID-19. Masyarakat Nusantara cukup familiar dengan  rapid test  dan swab test PCR, yang lazim dilakukan di masa new normal.


Perbedaan rapid test antigen dan rapid test antibodi salah satunya berkaitan secara keakuratannya. Selain itu, kedua macam rapid test tersebut juga mempunyai perbedaan pada objek yang diperiksa. Kamu perlu memahami tentang kedua jenis rapid test ini, beserta tes PCR atau swab.


Berikut Liputan6. com rangkum dari berbagai sumber, Jumat (18/12/2020) tentang perbedaan rapid test antigen dan rapid test antibodi.

2 sebab 4 halaman

Rapid Test Antigen

Perbedaan rapid test antigen dan rapid tes antibodi perlu benar-benar dipahami. Bertemu namanya, hasil rapid test bisa langsung diketahui dalam waktu dengan singkat, biasanya hanya sekitar kira-kira menit atau paling lama satu jam untuk menunggu hasil pemeriksaan keluar.


Untuk melakoni tentang rapid test antigen, kamu perlu mengenali apa itu antigen terlebih dahulu. Antigen merupakan sepadan zat seperti racun, kuman, ataupun virus, yang dapat masuk ke dalam tubuh. Virus Corona dengan masuk ke dalam tubuh bakal terdeteksi sebagai antigen oleh pola imunitas. Antigen ini dapat dideteksi melalui pemeriksaan rapid test antigen.


Rapid test antigen untuk virus Corona dilakukan dengan mengambil sampel lendir dari indra atau tenggorokan melalui proses swab. Pemeriksaan ini perlu dilakukan menyesatkan lambat 5 hari setelah munculnya gejala COVID-19 agar hasilnya bertambah akurat.


Beberapa studi menunjukkan bahwa pemeriksaan rapid test antigen virus Corona memiliki level akurasi yang lebih baik dipadankan rapid test antibodi. Akan namun, pemeriksaan rapid test antigen dinilai belum seakurat tes PCR untuk mendiagnosis COVID-19.

3 dari 4 kaca

Rapid Test Antibodi

Rapid test antibodi ini merupakan yang paling awal muncul. Memperlawankan rapid test antigen dan rapid test antibodi bisa kamu kenali dengan memahami juga tentang rapid test antibodi.


Antigen, termasuk virus Corona, yang masuk ke dalam tubuh dapat terdeteksi oleh sistem imunitas tubuh. Setelah antigen terdeteksi, sistem imun bakal memproduksi antibodi untuk memusnahkannya.


Keberadaan antibodi untuk membasmi virus Corona bisa dideteksi meniti rapid test antibodi. Rapid test ini bertujuan melihat antibodi atau respons tubuh terhadap infeksi COVID-19. Antibodi yang dipicu COVID-19 terbentuk dalam 5 hingga 7 hari setelah terinfeksi. Sayangnya, tes itu memiliki tingkat akurasi yang kecil dalam mendeteksi keberadaan virus Corona di dalam tubuh.

4 dari 4 halaman

Perbedaan Rapid Test Antigen dan Rapid Test Antibodi

Perbedaan rapid test antibodi dan rapid test antigen bisa dilihat dari berbagai faktor. Perbedaan rapid test antibodi dan rapid test antigen dengan pertama adalah sampel yang dimanfaatkan. Sampel yang digunakan pada rapid test antigen dan tes PCR menggunakan sampel lendir dari hidung atau tenggorokan yang diambil menggunakan proses swab. Berbeda dengan rapid test antigen dan tes PCR, rapid test antibodi menggunakan sampel darah yang diambil dari penghabisan jari atau pembuluh darah.


Selain itu, rapid test bertujuan melihat antibodi atau respons tubuh terhadap infeksi COVID-19. Tatkala itu, rapid test antigen buat memeriksa protein virus. Jadi kalau rapid test antigen yang diperiksa antigennya, protein pada virusnya.


Perbedaan rapid test antigen dan rapid test antibody serupa terletak pada tingkat keakuratannya. Rapid test antigen disebut lebih spesifik dari rapid test biasa karena yang diperiksanya pun lebih spesifik. Jika seseorang dinyatakan positif sesudah rapid test antigen maka berarti ia benar-benar positif karena virusnya ada.


Guru Gembung Ilmu Mikrobiologi Klinik Universitas Nusantara (UI) Prof. dr.,   Amin Soebandrio. Ph. D, Sp. MK. menyatakan kalau rapid test antibodi tidak selalu ada virusnya.


“Di orang yang segar pun bisa reaktif, sudah tak ada virusnya tapi rapid test-nya masih bisa reaktif. Kalau antigen, bisa dikatakan spesifitasnya 100 tip, artinya kalau dia reaktif, antigennya terinfeksi, dapat dipastikan PCR-nya selalu positif, tapi sensitifitasnya lebih nista dari PCR, ” tutupnya.


Pemeriksaan penunjang untuk menjumpai keberadaan virus Corona yang memutar akurat adalah tes PCR dengan tingkat akurasi mencapai 80–90%, namun rapid test antigen memiliki level akurasi sedikit di bawah tes PCR. Rapid test antibodi merupakan pemeriksaan dengan tingkat akurasi paling rendah, yaitu hanya sekitar 18%.

Daniel Powell