Site Loader
Mau Punya Anak Lagi, 7 Perkara Psikologis Ini Perlu Anda Pertimbangkan

Liputan6. com, Jakarta Di masa pandemi COVID- 19 tentunya segala bidang kesibukan tengah mengalami keterpurukan, tetapi tidak untuk angka kelahiran bayi yang melambung tajam pada 2021 kelak. Kehadiran si mungil, si orok yang turut mewarnai kehidupan suku dan menjadi hadiah tak terkira dengan menambahnya personil di bagian keluarga tersebut.

Pasalnya, tingkat kelahiran bayi pada 2021 mendatang diprediksi menyusun hingga 100-200 persen. Kehadiran buah hati yang tak terduga pada masa pandemi ini dipicu oleh tingginya intensitas suami-istri berkegiatan pada rumah.


Namun, sapa sangka mitos ‘Banyak anak, banyak rezeki’ terbukti ampuh di era WFO ini, yang juga menaikkan tekanan bagi psikologi ibu. Beserta kondisi psikologis yang perlu dipertimbangkan untuk menambah buah hati dilansir dari Brightside :

2 dari 8 halaman

1. Sudah punya anak, tetapi masih ingin lagi

Biar seorang ibu sudah memiliki bujang, tetapi terkadang pikiran untuk menaikkan buah hati akan terlintas pada masa-masa sulit ini yang betujuan untuk mengisi kekosongan hati serta masa kecil yang kurang makmur. Alasan ini menjadi tolak ukur utama si ibu menginginkan si kecil kembali dalam hidupnya.

3 daripada 8 halaman

2. Berpaham kehadiran si buah hati eratkan hubungan

Berdasarkan situs dari Brightside , 67% pasutri mengaku kepuasan berhubungan mengalami kelesuan usai kelahiran anak pertama. Biasanya penurunan wanita terjadi pada 6 bulan, sedangkan pria 3 bulan bertambah lama. Untuk merekatkan kembali, suami-istri berupaya menambah anak.

4 dari 8 halaman

3. Karir ialah prioritas utama

Impian tambahnya buah hati dalam keluarga, sayangnya terguncang ketika pekerjaan menjadi prioritas utama untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang berdampak di kualitas anak. Namun, hal tersebut berakibat pada kurangnya kasih roman pada anak dan juga bani merasa condong tidak diinginkan eksistensi dan rendah diri.

5 dari 8 halaman

4. Tidak merasa puas dengan keadaan Anda

Sebagaimana pengkajian dari Michigan State University , orang tua adalah panutan utama dari anak-anak dengan mengharuskan mereka untuk memberikan contoh terbaik di depan anak. Pada prosesnya, tidak jarang orang gelap melakukan kesalahan yang berujung di dalam lemahnya rasa optimis anak untuk mencapai tujuan.

6 dari 8 halaman

5. Belum dewasa

Bahasa ilmiah lumrah sebagai “infatilisme” di mana seseorang berperilaku menyerupai anak kecil, kala usianya beranjak dewasa. Berkeinginan mempunyai anak kembali, hal ini tetap hak tiap individu, tetapi dalam menjalaninya perlu diimbangi dengan aksi tekun dan kontrol diri perlu mendidik anak tanpa diganggu oleh keegoisan pasangan satu sama lain.  

7 dari 8 halaman

6. Merasa stres dan kecemasan

Stres dan kecemasan mmeicu bergumulnya emosi minus pada diri orang tua. Hati ini dihimbau untuk tetap dikendalikan sebab berdasarkan informasi dari Brigthside mengutarakan pada usia pertama si bayi, emosi ini berpengaruh kuat yang berakibat pada tindakan negatif ke anak yang bisa mengarah dalam toxic parents .

8 dari 8 halaman

tujuh. Berekspektasi tinggi memandang kehidupan

Tak jarang tiap orang tua berangan-angan anak-anaknya menjadi sukses di kehidupan yang kemudian. Hal ini dapat menjadi bumerang ketika ekspektasi gagal dijalani oleh si anak dan dianggap kewajiban yang berujung pada ketakutan, tak layak, rendah diri, bahkan menjelma pengalaman buruk di masa mungil.


Keinginan menambah bahan hati perlu memperhatikan kondisi moral yang siap demi kebaikan muncul kembang anak di masa ajaran.

Penulis:  


Ignatia Ivani 


Universitas Multimedia Nusantara

Daniel Powell