Site Loader
Harga Minyak Anjlok 4 Persen Berbarengan Lemahnya Permintaan BBM di GANDAR

Liputan6. com, Jakarta kacau Harga minyak mendarat pada perdagangan Rabu setelah nilai inventaris AS menunjukkan permintaan menyurut untuk produk olahan minyak sebab kasus COVID-19 global melonjak.


Dikutip dari CNBC, Kamis (22/10/2020), harga minyak mentah berjangka Brent berada di USD 41, 64 per barel turun USD 1, 51 atau 3, 5 persen.

Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) ditutup turun 4 persen atau USD satu, 67 ke level USD 40, 03. Kedua harga patokan patra tersebut naik di sesi sebelumnya.


Persediaan minyak anom turun 1 juta barel di dalam sepekan hingga 16 Oktober menjadi 488, 1 juta barel, tengah stok bensin naik dalam menunjukkan melemahnya permintaan bahan bakar.


Produk keseluruhan yang dipasok, yang mewakili permintaan, tetap turun 13 persen pada tahun itu dan selama empat minggu belakang jika dibandingkan dengan periode tarikh lalu.


“Pasar secara serius bergulat dengan permintaan setelah terus meningkatnya kasus COVID-19, ” kata Tony Headrick, Analis Pasar Energi di CHS Hedging.


Menambah tekanan, kasus COVID-19 di seluruh dunia melampaui 40 juta pada hari Selasa, dengan beberapa bagian Eropa memberlakukan langkah-langkah penguncian baru.


“Brent sangat terekspos ke kawasan Eropa yang sedang menjalani lockdown anyar, ” kata Headrick,


Di sisi pasokan, menteri energi Rusia mengatakan pada hari Selasa bahwa terlalu dini untuk mempercakapkan masa depan pembatasan produksi patra global setelah Desember, kurang dibanding seminggu setelah mengatakan rencana untuk mengurangi pembatasan produksi yang tersedia harus dilanjutkan.


Mula tahun ini, Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya tercatat Rusia atau yang dikenal jadi OPEC+ sepakat untuk memangkas kontraksi produksi pada Januari dari tujuh, 7 juta barel per keadaan (bph) saat ini menjadi kira-kira 5, 7 juta barel per hari.


Pada masa yang sama, anggota OPEC asing yaitu Libya yang dibebaskan dari pemotongan tersebut, juga meningkatkan penerapan setelah konflik bersenjata menutup hampir semua produksinya pada bulan Januari. Produksi telah pulih menjadi sekitar 500 ribu bpd dengan Tripoli mengharapkan angka itu menjadi perut kali lipat pada akhir tarikh.


Pertarungan atas RUU bantuan virus Corona AS yang besar dan kuat akan berlaku hingga Rabu ketika Gedung Suci dan Demokrat mencoba untuk mencapai kesepakatan sebelum pemilihan presiden & kongres 3 November, sekarang secara dorongan dari Presiden Donald Trump.

2 dari 3 halaman

Perniagaan Sebelumnya

Harga  minyak  stabil pada hari Selasa tetapi tetap di bawah lagu dari ancaman terhadap permintaan daripada kebangkitan global dalam kasus virus corona dan peningkatan produksi Libya.


Dikutip dari CNBC, Rabu (21/10/2020),   minyak  hijau berjangka Brent diperdagangkan 3 sen lebih rendah pada USD 42, 59 per barel.


Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate AS bulan November turun 4 sen menjadi diperdagangkan di dalam USD 40, 79 per barel, sedangkan kontrak Desember yang lebih aktif turun 7 sen, ataupun 0, 2 persen, menjadi USD 40, 99.


Ke-2 kontrak telah diperdagangkan dalam kisaran USD 2 hingga USD dua, 50 antara harga tertinggi dan terendah per barel selama perut minggu.


Kasus COVID-19 mencapai 40 juta pada hari Senin, menurut penghitungan Reuters, dengan gelombang kedua yang tumbuh dalam Eropa dan Amerika Utara menerbitkan berbagai tingkat tindakan penguncian.


“Selasa menemukan pedagang minyak berjuang untuk mengambil keputusan tentang bagaimana menafsirkan hasil pertemuan OPEC + hari sebelumnya, ” kata Bjornar Tonhaugen, kepala pasar minyak di Rystad Energy.


Sebuah pertemuan pada hari Senin dari panel menteri Organisasi Negeri Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, bersama-sama dikenal sebagai OPEC +, berjanji untuk mendukung pasar minyak karena kekhawatiran kasus virus corona yang melonjak.


Untuk saat ini, OPEC + berkacak pada kesepakatan untuk mengekang produksi sebesar 7, 7 juta barel per hari (bph) hingga akhir tahun dan kemudian meningkatkan produksi sebesar 2 juta barel bohlam hari pada Januari.


Pengamat OPEC, termasuk analis daripada bank AS J. P. Morgan, mengatakan bahwa prospek permintaan  minyak  yang lemah dapat mendorong OPEC + untuk menunda pengurangan pemisahan.


“Pemulihan permintaan tidak merata. Hari ini proses itu telah melambat karena gelombang kedua virus corona tetapi belum sepenuhnya berbalik, ” Menteri Energi Rusia Alexander Novak mengatakan pada pertemuan JMMC.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Kolong Ini:

Daniel Powell